Samigaluh adalah Jokja

3 04 2012

samigaluh adalah jogja

Masyarakat Jogja1

 

 

 

Potret Masyarakat.

Siapapun yang berkunjung dan jagong (=duduk bersila) dengan masyarakat Samigaluh pasti akan terkesan dan merindukannya untuk berkunjung kembali.

Kesederhanaan telah mengalir dalam darah petani dan masyarakat Samigaluh. Kepatuhan terhadap junjungannya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan.

Samigaluh adalah wilayah Sri Sultan yang sudah diberikan kepemilikannya kepada masyarakat. Hutan Rakyat yang menjadi dambaan telah menjadi miliknya sendiri dan dikelola secara mandiri.

Meskipun Samigaluh adalah bagian yang kecil dari kabupaten Kulonprogo, Samigaluh adalah Jokja.

Kami mengundang untuk secangkir kopi dan teh.

Salam

Advertisements




Menebar Bibit Bibit

16 03 2012

[Samigaluh, 16 Maret 2012].

Image

Pembibitan adalah sebagi embrio dimana kami melakukan perluasan wilayah community logging.

Di desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh di Kulon Progo adalah tempat yang kami pilih. Di atas tanah kas desa dan atas budi baik Ibu Kepala Desa dimulailah pembibitan yang semula hanya menjadi bagian dari pendukung kegiatan bersistem lokal community logging. Di tempat ini kemudian menjadi salah satu pusat perhatian dan kegiatan penelitian, mahasiswa, perdagangan bibit  dan yang terakhir sebagai tempat Musyawarah Besar Telapak 2012 diselenggarakan.

salam





Direktur PNU Yogya: Tantangan Menerima Sertifikasi

9 04 2011

Tulisan ini bersumber langsung dari Sdr. Hendaru Djumantoro, Direktur PT Poros Nusantara Utama (PNU) Yogyakarta.  Beliau sengaja menuliskan buah pikiran ini sebagai wujud rasa bangga namun juga mengingatkan akan tantangan ke depan yang lebih berat bagi Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM).  Berikut tulisan beliau …

Gembira, tentu saja. Karena perjuangan yang begitu panjang akhirnya membuahkan hasil. Kelelahan bekerja membangun cita-cita yang telah dimulai sejak tahun  2006 sampai tahun 2011 seakan tidak terasa. Tepatnya tanggal 16 Maret 2011, Koperasi Wana Lestari Menoreh menerima Sertifikat FSC-CoC.  Namun demikian apakah lantas cerita ini sudah berakhir? Ternyata tidak demikian.

Disisi pengelolaan hutan lestari, terbitnya sertifikat FSC ini memberikan tantangan kepada KWLM untuk terus menerus menjaga dan membuktikan bahwa masyarakat mampu mengelola dan menjaga kelestarian hutan.

Di sisi pasar tantangan yang pertama muncul adalah Kecilnya volume tebangan KWLM.  Saat ini KWLM memiliki luasan lahan hutan kelola lestari 210 hektar. KWLM memiliki 4 jenis kayu yang berlabel sertifikat FSC, yaitu Jati, Mahoni, Albasia dan Sonokeling. Jatah Tebang Tahunan (JTT) lestari saat ini untuk Jati 147 m3; Mahoni 137 m3; Albasia 211 m3 dan Sonokeling 10 m3. Total hanya 505 m3.
Sebagai produsen kayu bersertifikat FSC yang masih baru, angka tersebut masih sangat kecil, dibandingkan kebutuhan sebuah industri perkayuan skala menengah yang paling tidak memiliki skala produksi 2000 M3 per tahun.

Realita ini masih ditambah oleh budaya masyarakat Jawa pada umumnya yang masih memandang  pohon sebagai simpanan. Mereka akan menebang hanya jika terpaksa butuh uang, “kepepet” tidak ada sumber alternative lainnya. Dengan demikian angka riil tebangan bisa jauh dibawah jatah tebang lestari.

Tantangan ini tidak membuat para pengurus dan penggiat di KWLM patah semangat. Setidaknya karena pada kenyataannya total luas hutan rakyat di Kabupaten Kulon Progo dimana KWLM beraktivitas adalah 17.000 hektar. Jika dihitung dengan membandingkan secara rata-rata luasan kelola KWLM dengan JTT saat ini, maka luasan 17.000 hektar berpotensi memberikan JTT kayu lestari sebanyak 40.900 m3, sebuah angka yang menakjubkan.

Tidak ada pilihan lain bagi KWLM. Jika ingin hutan di Kulon Progo tetap lestari dan memiliki posisi tawar yang baik di pasar kayu, KWLM harus terus menerus menyebarkan visi lestari dan terus menambah jumlah luasan kelola melalui penjaringan anggota baru.

Selamat berjuang KWLM…!!!





Salam dari Menoreh

30 03 2010

Para pembaca yang budiman,

Blog yang anda baca ini adalah sebuah blog yang dikelola oleh sebuah koperasi petani hutan di kawasan Pegunungan Menoreh.  Koperasi ini disebut dengan nama Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM).  Sesuai dengan namanya, koperasi ini didirikan dengan berbekal semangat untuk melestarikan hutan dan sekaligus meningkatkan tingkat perekonomian petani hutan di kawasan Menoreh.

Kawasan Pegunungan Menoreh adalah sebuah kawasan perbukitan yang membujur di batas barat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah.  Letaknya berada diantara Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Magelang.  Kawasan perbukitan ini merupakan kawasan berhutan yang menjadi sumber mata air bagi beberapa sungai yang mengalir di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.  Secara historis dan budaya, kawasan ini merupakan kawasan penting yang terkait dengan budaya Mataram.  Begitu pentingnya hingga Menoreh juga digunakan sebagai tema sentral dalam karya sastra bernuansa sejarah rekaan S.H. Mintardja, yaitu “Api di Bukit Menoreh”.

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan tekanan pembangunan yang eksploitatif, kawasan hutan penting di Menoreh perlahan mulai mengalami degradasi.  Hutan-hutan alam telah berganti dengan kebun monokultur dan hutan pinus yang rakus air.  Daerah perbukitan curam yang relatif rentan akan bahaya erosi ini pun mulai tergerus ketika air hujan yang turun tak lagi mampu diserap oleh tanah.  Selain ancaman degradasi hutan, di sisi lain kawasan ini juga merupakan wilayah sub-urban yang cenderung rendah tingkat perekonomiannya.  Warga desa di usia produktif lebih banyak yang memilih untuk bekerja di kota dibandingkan meneruskan tradisi pertanian dan membangun kampung halamannya.  Akibatnya kawasan Menoreh kini hanya menjadi kawasan tertinggal.

Dengan kondisi ini, beberapa warga desa di Menoreh bersepakat untuk merubah keadaan.  Menoreh tak harus menjadi kawasan perkampungan yang selalu ditinggalkan warganya.  Kerusakan hutan harus diperbaiki.  Tingkat perekonomian petani hutan yang mendominasi populasi penduduk Menoreh pun harus dapat ditingkatkan.  Kesepakatan ini akhirnya berbuah pada terbentuknya koperasi petani hutan di kawasan Menoreh.  Dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan, koperasi petani hutan ini pun mulai bekerja.  Bukan koperasi unit desa, bukan pula koperasi simpan pinjam yang dikembangkan.  Tapi sebuah koperasi untuk membangun hutan dan meningkatkan perekonomian petani.  Produk utamanya adalah hasil hutan berupa kayu (jati, mahoni, sengon, dan sonokeling), tanaman herbal, produk pertanian organik, dan hewan ternak.

Semoga cita-cita mulia ini dapat terwujud nyata …