Penghargaan dari The British Council

25 01 2015

Film ini dibuat oleh The British Council sebagai penghargaan kepada Koperasi Wana Lestari Menoreh dalam upaya mengelola hutan dan pelestarian hutan di Kulon Progo. Penghargaan ini menjadi sebuah kehormatan bagi seluruh anggota KWLM dalam menjadikan hutan sebagai tabungan di masa depan dan kemandirian yang akan diwariskan. Upaya yang kecil ini akan menjadi catatan kecil untuk dititipkan ke anak cucu mendatang, salam lestari.





DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT KOPERASI WANA LESTARI MENOREH 2010-2014

24 03 2014

Pendahuluan

Rencana pengelolaan hutan ini menggambarkan sistem pengelolaan hutan rakyat yang diterapkan oleh anggota Koperasi Wana Lestari Menoreh. Dalam perjalanan pengelolaan hutan yang akan dilakukan jika diperlukan adanya perubahan/revisi maka setiap perubahan dalam rencana pengelolaan akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Dokumen Rencana Pengelolaan ini akan disimpan dalam jangka waktu 5 tahun. Manajemen ini menggambarkan :

1. Tujuan pengelolaan hutan rakyat Koperasi Wana Lestari Menoreh

2. Wilayah pengelolaan hutan

3. Kondisi soisal ekonomi masyarakat dalam wilayah pengelolaan hutan rakyat

4. Cara untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan, metode-metode pemanenan dan

   Silvikultur untuk menjamin kelestarian

5. Limit Penebangan Yang Lestari

6. Aspek Sosial dalam pengelolaan hutan rakyat

7. Aspek pengelolaan lingkugan hidup.

8. Peta-peta hutan yang menunjukkan Kawasan-kawasan yang dilindungi, pengelolaan yang direncanakan dan kepemilikan lahan

9. Jangka waktu perencanaan

 

Latar Belakang Koperasi Wana Lestari Menoreh

Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM)  mendapatkan pengesahan hukum yaitu Badan Hukum Nomor : 29/BH/XV.3/2009, tanggal 3 April 2009

Koperasi ini awalnya di bentuk melalui program Community Logging yang di kembangkan oleh Telapak salah satunya di Jawa. Untuk menjalankan program Community logging ini, pada bulan Apirl 2007, Telapak bersama lembaga lokal setempat yaitu Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIMA) dan lembaga Credit Union (CU) Kharisma bertemu dan sepakat untuk melakukan sosialisasi Community Logging di desa-desa dengan melibatkan perangkat/pemerintahan Desa. Menindak lanjuti hasil dari sosialisasi yang mendapatkan tanggapan baik maka, pada tanggal  1-6 April 2007 disepakati diadakan pelatihan fasilitator di Boro, Kalibawang, berupa simulasi tentang materi pelatihan, penetapan lokasi sosialisasi di kecamatan Kalibawang dan Samigaluh yang terdiri dari 11 desa. Sosialisasi di lakukan selama 8 bulan di dusun-dusun di sebelas desa tersebut.Dari sosialisasi ini yang di hadiri kader dusun didampingi oleh  kepala desa, kemudian ditetapkan kader dusun dan wakil yang hadir dalam Work Shop tentang Community logging dan sertifikasi hutan di Gerbosari, Samigaluh,

Pada tanggal 12-19 Juni 2008 diadakan pertemuan dan diskusi para kader dusun dan memutuskan terbentuk Lembaga Kelestarian dengan nama “Wana Lestari Menoreh” bentuk lembaga adalah Koperasi. Pertemuan selanjutanya tanggal 3-12 Juli 2008 dengan agenda menyusun draf AD/ART Koperasi Wana Lestari Menoreh serta membentuk pengurus dan perwakilan kader dari 11 desa. Pembentukan AD / ART dilakukan secara swadaya oleh para kader. Pada 2 Agustus terbentuklah koperasi Wana Lestari Menoreh dengan badan pendiri terdiri 20 orang.

Untuk menjawab permasalahan sektor kehutanan di Kulon Progo, luasan wilayah koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) nantinya akan meliputi satu Kabupaten Kulon Progo yaitu meliputi 12 Kecamatan. Saat ini, pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan untuk proses menuju sertifikasi di

prioritaskan di 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, dan Giripurwo, yang terdiri dari 15 desa dengan total potensi luas hutan rakyatnya 8.300 ha. Meskipun demikian sampai dengan lima tahun kedepan (2009-2013) KWLM hanya menargetkan capaian 5000 ha. Saat ini koperasi telah melakukan pengelolaan hutan rakyat seluas 280 ha. Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM)  telah menyepakati pengelolaan hutan dan pengolahan kayunya untuk 4 jenis pohon yaitu  Jati, Mahoni, Sengon dan Sonokeling.

Untuk  meningkatkan kapasitas  pengurus  dan anggota serta  meningkatkan  kesiapan  KWLM  menuju  sertifikasi pengelolaan hutan  lestari, dengan dukungan dana dari  lembaga HIVOS, dilakukan beberapa  pelatihan  bagi  pengurus  dan  anggota  koperasi.  Rincian  kegiatan  pelatihan  yang dilaksanakan oleh KWLM adalah sebagai berikut:

  1. 14-15 Februari 2009: Pelatihan Inventarisasi Hutan, peserta 100 orang.
  2. 31 Mei  2009  :  Pelatihan  Pemetaan  Partisipatif  dimana  lokasi  kegiatan  dibagi  4 lokasi/blok. 
  3. 26-28 Juni 2009: Pelatihan Manajemen Keuangan, diikuti oleh 30 orang.
  4. Awal Agustus 2009 : Pelatihan Pembuatan Pembibitan/Persemaian.
  5. Pertengahan Agustus 2009  : Diskusi dengan perwakilan pengurus KHJL Konawe Selatan, untuk proses persiapan sertivikasi

 

VISI DAN MISI

Visi

Membangun Kulon Progo secara bersama untuk mewujutkan lingkungan alam sekitar yang lestari dan berkelanjutan untuk meningkatkatkan pendapatan masyarakat secara adil.

Misi

  1. Menciptakan lapangan pekerjaan.
  2.    Memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan  dengan budi daya kehutanan, pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan

 

SASARAN KEGIATAN

Koperasi Wana Lestari Menoreh dalam usahanya lebih mengedepankan nilai sosial yang dibangun dengan mengangkat kearifan local yang selama ini sangat dipatuhi oleh masyarakat, hal ini sangat efektif dalam kegiatan pengelolaan hutan secara lestari, dan secara umum dapat mempertahankan budaya local dalam upaya melestarikan hutan.

Selain itu Koperasi Wana Lestari Menoreh juga mengedepankan aspek Ekologi sebagai upaya dalam menjaga keseimbangan ekosistem dalam menyangga tata air, upaya ini tentu tidak lepas dari akses teknologi yang diharapkan adanya dukungan dari akademisi/perguruan tinggi, pemerintah terkait, Lembaga Sosiala Masyarakat dalam mentransfer pengetahuan pengelolaan hutan secara lestari.

 

Harapan

Terjaganya nilai-nilai social dan kearifan local yang telah dijalankan masyarakat, terciptanya peningkatan kesejahteraan masyarakat petani hutan untuk  mendukung pelestarian sumberdaya alam di Kabupaten Kulonprogo, DIY melalui pengembangan usaha pengelolaah hutan dan pengolahan kayu.

Rencana manajemen ini akan diperbaharui secara berkala untuk mengetahui perubahan-perubahan penting yang terjadi di area yang dikelola oleh anggota Koperari Wana Lestari Menoreh. Paling tidak, rencana ini akan diganti setiap lima tahun.

 

Tujuan-tujuan Pengelolaan

Tujuan pengelolaan hutan KWLM adalah untuk:

  • Meningkatkan mutu pengelolaan lahan hutan rakyat anggota KWLM di Kabupaten Kulonprogo
  • Memfasilitasi akses pasar bagi para anggota dimana pasar yang dituju adalah yang mampu membeli kayu dengan harga yang lebih baik
  • Meningkatkan kesejahteraan anggota
  • Membina anggota agar memiliki kemampuan melakukan pengelolaan hutan secara lestari.
  • Menjembatani tukar pengalaman dan wawasan diantara para anggota.
  • Mendapatkan Sertifikat FSC untuk semua anggota hutan rakyat untuk pengelolaan yang lestari dan memiliki pasar dengan permintaan yang sangat tinggi.

 

Penjelasan Wilayah Pengelolaan Hutan Rakyat

Wilayah Pengelolaan

Sesuai dengan legalitas Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM), Badan Hukum Nomor : 29/BH/XV.3/2009, tanggal 3 April 2009, dimana telah disebutkan didalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) bahwa, cakupan wilayah kerjanya pada dasarnya meliputi seluruh wilayah Kabupaten Kulonprogo. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya diatas, luas hutan rakyat Kabupaten Kulonprogo, terdiri dari 12 Kecamatan seluas 17.510,75 ha.

Mengingat bahwa organisasi ini baru dibentuk, maka tahap awal pengelolaan hutan rakyat KWLM difokuskan pada 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Samigaluh, Kecamatan Kalibawang dan Kecamatan Girimulyo, terdiri dari 15 desa dengan potensi luasan lahan 8.300,50 ha. Pengelolaan lahan yang dilakukan KWLM merupakan lahan milik perseorangan (bukan hutan negara) yang dapat ditunjukkan dengan bukti yang sah yang diakui oleh pemerintah. Berikut disajikan tabel sebaran wialayah kelola KWLM yaitu;

Tabel 1: Sebaran Wilyah Kelola Hutan KWLM

 

No

Kecamatan Samigaluh

Kecamatan Kalibawang

Kecamatan Girimulyo

1

Desa kebonharjo

Desa Banjaroya

Desa Giripurwo

2

Desa Banjarsari

Desa Banjarharjo

Desa Jatimulyo

3

Desa Pagerharjo

Desa Banjarasri

Desa Pendoworejo

4

Desa Ngargosari

Desa Banjararum

Desa Purwasari

5

Desa Gerbosari

   

6

Desa Sidoharjo

   

7

Desa Purwoharjo

   

Kondisi Fisik Kawasan

Batas dan Luas Wilayah

Posisi lokasi Kecamatan Samigaluh terletak di 7° 40′ 00″ S LS dan 110° 10′ 00″ E BT.[1]

Luas wilayah 6.929,31 ha dengan batas-batas wilayah yaitu:

–          Sebelah utara adalah Kecamatan Borobudur, Jawa Tengah

–          Sebelah barat adalah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah

–          Sebelah selatan Kecamatan Girimulyo

–          Sebelah timur Kecamatan Kalibawang

Kecamatan Samigaluh terdiri dari 7 desa yaitu Kebonharjo, Banjarsari, Pagerharjo, Ngargosari, Gerbosari, Sidoharjo, dan Purwoharjo.

Posisi lokasi Kecamatan Kalibawang terletak di 7° 40′ 11″ LS dan 110° 15′ 06″ BT[2]

Luas wilayah 5.296,37 ha dengan batas-batas  wilayah yaitu:

–          Sebelah utara adalah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

–          Sebelah Timur adalah dibatasi sungai Progo dan Kab. Sleman

–          Sebelah Selatan adalah Kecamatan Nanggulan, Kab. Kulon Progo

–          Sebelah Barat adalah Kecamatan Samigaluh, Kab. Kulon Progo

Kecamatan Kalibawang teridiri dari 4 desa yaitu Banjaroya, Banjarharjo, Banjarasri dan Banjararum.

Posisi lokasi Kecamatan Girimulyo terletak di 7° 45′ 39″  LS dan110° 10′ 18″  BT[3]

Luas wilayah 5.490,42 ha dengan batas-batas  wilayah yaitu:

–          Sebelah utara adalah Kecamatan Samigaluh.

–          Sebelah Timur adalah Kecamatan Nanggulan.

–          Sebelah Selatan adalah Kecamatan Pengasih.

–          Sebelah Barat adalah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kecamatan Girimulyo terdiri dari 4 desa yaitu Giripurwo, Jatimulyo, Pendoworejo dan Purwsari.

Topografi

Kecematan Samigaluh merupakan dataran tinggi dalam jajaran perbukitan menorah dengan  ketinggian tempat wilayah yang bervariasi yaitu dari >250 – 1.000 m dpl, dengan tingkat kemiringan lahan >15 – 40 %.

Kondisi topografi Kecamatan Kalibawang ketinggian tempat dari permukaan laut yang bervariasi antara 200 – 600 m dpl, 65 % merupakan perbukitan dan 35 % merupakan daerah landai sampai bergelombang, dengan kemiringan lereng antara 0-45 %. 

Kondisi Topografi Kecamatan Girimulyo memiliki ketinggian tempat dari permukaan laut yang bervariasi antara 500 – 800 mdpl, dengan tingkat kemriringan lahan 8 – 39 %.

                       Tabel 3. Kondisi Topografi 6 Desa di Kecamatan Samigaluh

KECAMATAN SAMIGALUH

 

No

Desa / Kelurahan

Ketinggian Tempat

(m dpl)

Kemiringan Lahan

( %)

1

Desa kebonharjo

500 – 750

15 – 39

2

Desa Banjarsari

500 – 750

15 – 39

3

Desa Pagerharjo

500 – 750

40 – 59

4

Desa Ngargosari

500 – 750

40 – 59

5

Desa Gerbosari

500 – 1.000

40 – 59

6

Desa Sidoharjo

250 – 500

15 – 39

7

Desa Purwoharjo

250 – 500

15 – 39

KECAMATAN KALIBAWANG

 

1

Desa Banjararum

200-400

0 – 35

2

Desa Banjarasri

250-270

5 – 45

3

Desa Banjarharjo

350-400

0 – 45

4

Desa Banjaroya

400-600

0  – 45

KECAMATAN GIRIMULYO

 

 

Desa Giripurwo

50 – 500

8 – 14

 

Desa Jatimulyo

500 – 800

15 – 39

 

Desa Pendoworejo

50 – 793

8 – 14

 

Desa Purwasari

200 – 800

15 – 39

 

Iklim

Kecamatan Samigaluh memiliki curah hujan tahunan rata-rata yaitu 2.150 mm. Jumlah hujan terbesar pada bulan Januari dan terkecil bulan Agustus. Suhu bulanan rata-rata adalah 25°C, dengan suhu bulanan ternedah bulan Juli (24,2°C) dan tertinggi di bulan April (25,4°C). Sedangkan kelembaban udara bulanan rata-rata yaitu 82,2 %, tertingggi pada bulan Januari 85,9 % dan terendah bulan Agustus 78,6 %. Dan intensitas penyinaran matahari bulanan rata-rata 45,5 %, tertinggi pada bulan Juli 52,5 % dan terendah bulan Maret 37,5 %.  Curah hujan di wilayah Samigaluh bulan basah 4-6 bulan dan bulan kering 7-9 bulan.

Kecamatan Kalibawang memiliki curah hujan < 60 mm dengan bulan kering 3 bulan, curah hujan 60-80 mm dengan bulan lembab 1 bulan, curah hujan > 80 mm dengan bulan basah 8 bulan. Keadaan suhu rata-rata 32,5 °C, dengan suhu minimum 28 °C dan suhu maksimum 37 °C, dimana kelmebaban rata-rata 72,5 %, kelembaban minimum 70 % dan kelembaban maksimum 75 %. Kecamatan Girimulyo memiliki curah hujan 1.192 mm/tahun dengan suhu maksimum 30ºC dan suhu minimum 24ºC.

7.3.    Tata Guna Lahan

Status pengelolaan hutan jati, mahoni, sonokeling, dan sengon yang dilakukan KWLM di 3 Kecamatan yang saat ini menjadi fokus kerjanya merupakan hutan rakyat yang berada di tanah milik anggota. Ini dapat dibuktikan dengan dokumen-dokumen kepemilikan lahan yang sah dan diakui pemerintah yaitu;

  1. Sertifikat tanah,
  2. Girik,
  3. SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang),
  4. Surat Keterangan dari Kepala Desa,
  5. dokumen pendukung lain (misalnya Akte waris),

Dokumen tersebut diatas juga menjadi syarat setiap orang yang akan mendaftarkan diri menjadi anggota harus menyerahkan salinan salah satu dokumen resmi kepemilikan atas lahan yang diakuinya dan didaftarkan. Selain dokumen kepastian kepemilikan lahan, batas lahan perorangan-pun sudah cukup jelas dimana sebagian sudah menggunakan batas buatan berupa pathok semen chor dan ada yang masih berupa batas alam baik berupa tanaman maupun parit. Sehingga prinsip tentang hak tenure dan hak guna serta tanggung jawab seperti yang di syaratkan dapat terpenuhi. Dengan kepastian kepemilikan lahan anggota yang dikelola, pengelolaan hutan jati, mahoni, sonokeling dan sengon yang dilakukan KWLM, yang nantinya menjadi berbagai produk kayu, keterlacakan asal usul sumber bahan bakunya dapat dipertanggung jawabkan dan berkelanjutan.

Berdasarkan  tata guna  lahan, penggunaan  lahan yang  terbesar secara berurutan di  tiga  kecamatan  yaitu Kecamatan Kalibawang, Samigaluh dan Girimulyo adalah  untuk  tanah  kering  (tegalan)  seluas  8.810,51 Ha  (50 %), pekarangan/bangunan seluas 4.719,06 Ha  (27 %), sawah  irigasi  maupun  tadah  hujan  seluas  2.672,83  Ha  (atau  15 %), lahan hutan  rakyat  yaitu 324,65 Ha (2 %). Sedangkan luasan penggunaan  lahan hutan negara tidak ada. Secara rinci dapat dilihat pada teble berikut. (Kecamatan dalam angka tahun,  2008).

Tata Guna Lahan di Tiga Kecamatan

Kecamatan Samigaluh

Desa

Sawah

Tanah Kering

Bangunan

Hutan Rakyat

Hutan Negara

Lainnya

Jumlah

Kebonharjo

139,9

209

328,6

   

71,1

748,6

Banjarsari

132

336,7

323

   

63,8

855,5

Purwoharjo

174,9

305,9

427,1

   

101,4

1009,3

Sidoharjo

113

627,5

458,5

90

 

85,5

1374,5

Gerbosari

200

311,1

459,3

   

106,2

1076,6

Ngargosari

14

435,5

249,2

   

25,7

724,4

Pagerharjo

118,7

550,7

329,3

101,9

 

40

1140,6

Jumlah

892,5

2776,4

2575

191,9

 

493,7

6929,5

Kecamatan Kalibawang

Banjararum

387,4

631,1

148,3

   

73,1

1239,9

Banjarasri

225,3

376,5

401,9

   

138,4

1142,1

Banjarharjo

244,1

322,8

595,8

   

71,9

1234,6

Banjaroya

91,4

758,2

650,1

   

181,5

1681,2

Jumlah

948,2

2088,6

1796,1

 

 

464,9

5297,8

Kecamatan Girimulyo

Giripurwo

300

996,93

81,5

25

 

64

1467,43

Jatimulyo

178,99

1.293,31

101,7

50

 

5,06

1629,06

Pendoworejo

272,14

515,69

91,86

25,25

 

123,81

1028,75

Purwosari

81

1.139,58

72,9

50,5

 

21,2

1365,18

Jumlah

832,13

3945,51

347,96

150,75

 

214,07

5490,42

Jumlah Total

2672,83

8810,51

4719,06

342,65

0

1172,67

17717,72

Persentase

15%

50%

27%

2%

0%

7%

100

 

Kondisi sosial ekonomi

Berdasarkan data kecamatan dalam angka tahun 2008, jumlah  penduduk  Kecamatan  Samigaluh,  Kecamatan  Kalibawang,  dan  Kecamatan Girimulyo secara berturut-turut adalah 30.807 jiwa, 33.812 jiwa, dan 27.138 jiwa. Secara rinci berdasarkan jumlah populasi laki-laki 45.676 jiwa dan perempuan 46.081jiwa. Sedangkan total jumlah Kepala Keluarga (KK) yaitu 20.593 secara rinci masing kecamatan yaitu Samigaluh 7.605, Kalibawang 7.158, dan Girimulyo 6.370. Jumlah penduduk dari 3 kecamatan tersebut secara rinci dapat dilihat pada table berikut;

Jumlah Penduduk

Kecamatan Samigaluh, Kalibawang dan Girimulyo

 

Kecamatan Samigaluh

No

Desa

Laki-laki

Perempuan

Total

jumlah KK

1

Kebonharjo

1.468

1.464

2.932

637

2

Banjarsari

1.932

1.946

3.878

833

3

Purwoharjo

2.004

2.224

4.228

1.054

4

Sidoharjo

2.593

2.502

5.095

1.146

5

Gerbosari

2.863

2.595

5.458

1.145

6

Ngargosari

2.002

2.004

4.006

938

7

Pagerharjo

2.656

2.554

5.210

1.312

 

Jumlah

15.518

15.289

30.807

7.065

 

Kecamatan Kalibawang

1

Banjararum

4.891

5.627

10.518

2.706

2

Banjarasri

2.923

3.163

6.086

1.219

3

Banjarharjo

3.775

4.144

7.919

1.082

4

Banjaroya

4.442

4.847

9.289

2.151

 

Jumlah

16.031

17.781

33.812

7.158

 

Kecamatan Girimulyo

1

Giripurwo

3.316

3.449

6.765

1.548

2

Jatimulyo

3.470

3.439

6.909

1.894

3

Pendoworejo

3.514

3.215

6.729

1.491

4

Purwosari

3.827

2.908

6.735

1.437

 

Jumlah

14.127

13.011

27.138

6.370

 

Jumlah Total

45.676

46.081

91.757

20.593

 

Persentase

50%

50%

100%

 

Berdasarkan data kecamatan dalam angka jumlah populasi ternak terbesar ada di Kecmatan Samigaluh 22.378, setelah itu kecamatan Girimulyo 15.651 dan Kalibawang 11.900. Sedangkan berdasarkan jenis jumlah populasi ternak secara berurutan yaitu Kambing 35.538 (71%), Sapi 7.308 (15%), Domba 6.771 (14%), Kerbau 309 (1%) dan kuda 3 (0%). Informasi terkait dengan populasi ternak di 3 kecataman tersebut secara rinci dapat dilhat pada tabel berikut.

Populasi ternak

No

Kecamatan

Sapi

Kerbau

Kambing

Domba

Kuda

Jumlah

1

Samigaluh

2.220

21

15.429

4.707

1

22.378

2

Kalibawang

2.536

253

7.981

1.129

1

11.900

3

Girimulyo

2.552

35

12.128

935

1

15.651

 

Jumlah

7.308

309

35.538

6.771

3

49.929

 

Persentase

15%

1%

71%

14%

0%

100%

 

Cara untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan, metode-metode pemanenan dan Silvikultur untuk menjamin kelestarian

Untuk mencapai tujuan pengelolaan hutan untuk menjamin kelestarian koperasi melakukan beberapa hal yaitu; menentukan produk kayu yang dipanen/dikelola, menetapkan pengaturan tebangan,melakukan inventarisasi dari jenis produk yang dipanen, dan penyediaan bibit tanaman

Penentuan produk kayu yang dipanen/dikelola

Salah satu yang mencirikan hutan rakyat yaitu dalam satu lahan pada umumnya jenis tanaman beragam. Penentuan pilihan atas jenis yang akan dikelola menjadi sangat penting, diawal berjalan koperasi. Ini terkait dengan kemampuan dan ketersediaan sumberdaya manusia dan finansial yang terbatas dalam melakukan pengelolaan hutan yang akan dilakukan. Namun kedepannya bukan tidak mungkin akan lebih banyak potensi yang akan dikelola seiring dengan pertumbuhan koperasi. Untuk diawal berjalannya koperasi menetapkan 4 jenis tanaman/pohon komersial yang akan dikelola yaitu jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia sp), sonokeling (Dalbergia lattifolia), dan sengon (Paraseriantes falcataria). Dari ke empat jenis kayu inilah yang akan dibeli oleh koperasi melalui anggota-anggotanya.

Pengaturan Tebangan

Sebagai bentuk komitmen dalam pengelolaan hutan lestari yang dilakukan, untuk mengurangi kerusakan lingkungan dalam pemanenan hasil hutan KWLM menerapkan beberapa kebijakan yaitu;

  1. Tebang pilih yaitu batasan minimal diamater pohon yang diperkenankan untuk ditebang.Untuk pohon jati, mahoni dan sonokeling minimal diameter 30 cm, kecuali pohon sengon minimal diameter 20 cm.
  2. Tidak mengizinkan penebangan sekaligus dalam jumlah besar pada satu lahan.
  3. Penentuan Jatah tebang tahunan.
  4. Karena masih adanya sistem tabang butuh yang tidak bisa dihindari KWLM mengatasinya dengan bagi anggota yang memerlukan biaya untuk kebutuhannya namun pohonnya belum layak tebang, anggota dapat menjaminkan tegakan pohonnya yang jumlahnya senilai dengan pinjamannya. Jika pohon tersebut sudah layak tebang dan jika ada kelebihan dari hasil penjualan maka kelebihan tersebut akan diberikan kepada anggota.

Dari berbagai study literatur menyebutkan bahwa pertumbuhan rata-rata jati pertahun berkisar antara 1,8-2,0 cm. Sedangkan dari pengalaman dan pengamatan perkembangan pertumbuhan pohon yang telah dilakukan di Kulonprogo pada lahan anggota Bpk Mulyono menunjukkan pertumbuhannya pertahun 2,0 cm. Berdasarkan hal tersebut untuk mencari titik aman terakait dengan akurasi estimasi penghitungan riap dan daur pemanenan maka KWLM menetapkan tingkat pertumbuhan pohonnya 1.5 cm/diameter/tahun. Dengan tingkat pertumbuhan jati tersebut maka dapat diketahui untuk mencapai diameter 30 cm, maka umur layak panen atau layak tebang jati berumur 20 tahun.

Berdasarkan study literartur, untuk tanaman mahoni tingkat pertumbuhannya diameternya yaitu 1 cm pertahun, yang berarti untuk mencapai layak tebang dengan diameter 30 cm yaitu pada umur 30 tahun[4]. Namun berbeda dengan pertumbuhan Mahoni di wilayah kerja pengelolaan hutan KWLM dimana pertumbuhan pohon Mahoni pertahun mencapai 2 cm/tahun. Untuk itu KWLM menyepakati untuk pertumbuhan pertahun pohon Mahoni 2 cm/tahun yang berarti untuk mencapai layak tebang diamater 30 cm yaitu pada umur 15 tahun.

Untuk tanaman sengon (Iskandar Z. Siregar dkk, 2009) menyebutkan bahwa pertumbuhan sengon pada umur 12 tahun diamter pohon mencapai 60 cm[5], yang berarti pertumbuhan diameter pertahun yaitu 5 cm pertahun. Tulisan lain berdsarkan pengalaman petani di Jawa Barat pohon berumur 7-8 tahun diameter pohonnya mencapai 30 cm, yang berarti pertumbuhan

diameter pertahunnya yaitu 4,3 cm pertahun[6]. Berdasrkan referensi tersebut diatas KWLM menetepakan untuk menggunakan perhitungan pertumbuhan diameter sengon pertahun diasumsikan yaitu 4 cm, yang berarti untuk mencapai  kelayakan tebang minimal diameter 20 cm yaitu  pada umur 5 tahun.

Untuk tanaman sonokeling karena tidak ditemukan literatur tingkat pertumbuhan diameter pertahunnya maka anggota menyepakati dengan mengasumsikan pertumbuhannya yaitu 1 cm pertahun yang berarti untuk mencapai layak tebang dengan diameter 30 cm yaitu pada umur 30 tahun.

Untuk kedepannya agar KWLM mendapatkan informasi yang lebih baik lagi terkait dengan pertumbuhan diamater tegakannya pertahun, di wilayah pengelolaannya akan dilakukan pengamatan dengan beberapa sampel pohon dilahan anggota dan dibeberapa lokasi yang berbeda-beda.

Karena pada umumnya hutan rakyat di Kulonprogo tegakannya yang multi-umur dan tentu saja diameternya bervariasi, KWLM tidak hanya menggunakan siklus daur, tetapi lebih mengedepankan penggunaan ukuran batasan minimal kelas diameter yang diperkenankan seperti yang telah disebutkan diatas pada point 1, tentang kebijakan tebang pilih.

Berdasarkan hasil monitoring yang telah dilakukan kWLM terhadap tingkat pertumbuhan diameter pada masing-masing  pohon tidak ada perubahan,namun perubahan dilakukan pada diameter layak tebang yang didasarkan pada kesepakatan dan keputusan anggota pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) KWLM tahun 2011 yang memutuskan bahwa diameter pohon layak tebang untuk Jati, Mahoni dan Sonokeling berdiameter 25 cm yang sebelumnya 30 cm. Sedangkan sengon tidak terjadi perubahan.

RENCANA PENGATURAN TEBANGAN TAHUN 2010

No

Jenis Pohon

Pertumbuhan diameter

pertahun (cm)

Diameter tebangan (cm)

Umur

tebangan (tahun)

 

Nama Lokal

Nama ilmiah

 

 

 

1

Jati

Tectona grandis

1,5

30

20

2

Mahoni

Swietenia sp

2

30

15

3

Sonokeling

Dalbergia latifolia

1

30

30

4

Sengon

Paraseriantes falcataria

4

20

5

  

RENCANA PENGATURAN TEBANGAN TAHUN 2011

No

Jenis Pohon

Pertumbuhan Diameter pertahun (cm)

Diameter Tebangan (cm)

Umur Tabangan (tahun)

Nama Lokal

Nama Ilmiah

1

Jati

Tectona grandis

1,5

25

16

2

Mahoni

Swietenia sp

2

25

12

3

Sonokeling

Dalbergia latifolia

1

25

25

4

Albasia

Paraseriantes falcataria

4

20

5

 Untuk Rencana pengaturan tebangan pada tahun 2012 tidak ada perubahan atau masih menggunakan dasar perhitungan pada tahun 2011 seperti tersebut diatas.

Inventarisasi potensi tegakan pohon

Inventarisasi merupakan salah satu hal terpenting dalam melakukan pengelolaan hutan, karena inventarisasi diperlukan untuk:

  1. Mengetahui potensi dan kondisi tegakan pohon saat ini seperti :  jenis dan jumlah pohon,  volume pohon,  kondisi pohon (bengkok, lurus, banyak cabang dsb.).
  2. Mengetahui struktur tegakan hutan, seperti perbandingan antara jumlah pohon muda, sedang maupun yang siap tebang.
  3. Mengetahui perkembangan pertumbuhan pohon dari tahun ke tahun.
  4. Mengetahui kondisi lahan hutan, seperti luas dan lokasi areal hutan.
  5. Menyediakan informasi yang diperlukan untuk melakukan perencanaan pengelolaan hutan secara jangka panjang.

Dalam melakukan inventarisasi KWLM telah menetapkan jenis yang akan di inventarisasi yaitu Jati, Mahoni, Sonokeling, Sengon dan kelas diameter pohon yang akan dikur yaitu diameter 10-19 cm, 20-29 cm, 30 cm –up. Sampai dengan tahun 2009 KWLM telah selesai melekukan inventarisasi lahan seluas 110 ha dengan jumlah anggota 227 orang, dengan sebaran wilayah

kerja saat ini yaitu 3 Kecamatan (Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo), terdiri dari 15 desa (Kebonharjo, Banjarsari, Pagerharjo, Ngargosari, Gerbosari, Sidoharjo, Purwoharjo, Banjaroya, Banjarharjo, Banjarasri, Banjararum, Giripurwo, dan Jatimulyo, Purwosari, Pendoworejo yang merupakan wilayah pengembangan koperasi).

Dari hasil inventarisasi tersebut diketahui, total potensi pohon yang di kelola KWLM saat ini yaitu 14.937 pohon dengan Volume 2.161,70 m3, dimana dapat dijelaskan secara rinci dari setiap jenis sebagai berikut:

  1. Untuk total jumlah potensi pohon jati yang dimiliki KWLM saat ini yaitu 6.435 pohon dengan volume 826,35 m3, dengan rincian jumlah pohon berdasarkan kelas diamater 10-19 cm yaitu 3,923 pohon (61 %), 20-29 cm yaitu 2.012 pohon (31 %), 30 cm-up yaitu 500 pohon (8 %).
  2. Untuk total jumlah potensi pohon mahoni yaitu 6.522 pohon dengan volume 939,84 m3, dengan rincian jumlah pohon berdasarkan kelas diamamter 10-19 cm yaitu 4.744 pohon (73 %), 20-29 cm yaitu 1.436 pohon (22 %), 30 cm-up yaitu 342 pohon (5 %).
  3. Total jumlah potensi pohon sengon yaitu 1.257 dengan volume 307,33 m3, dengan rincian kelas diamater 10-19 cm yaitu 589 pohon (47 %), 20-29 cm yaitu 351 pohon (28 %), 30 cm-up yaitu 317 pohon (25 %).
  4. Sedangkan total jumlah potensi pohon sonokeling yaitu 722 pohon dengan volume 88,18 m3, dengan rincian kelas diameter 10-19 cm yaitu 366 pohon (51 %), 20-29 cm yaitu 235 pohon (33 %), 30 cm –up yaitu 121 pohon (17 %).

Dari data hasil inventarisasi potensi pohon tersebut diatas maka, diketahui saat ini KWLM memiliki pohon masak tebang yaitu jati 500 pohon, Mahoni 342 pohon, Sengon 668 pohon[7], sonokeling 121 pohon. Artinya saat ini KWLM memiliki total pohon yang siap tebang 1.631 pohon. Data potensi ini akan terus berubah seiring dengan bertambahnya anggota dan luasan lahan. Data potensi untuk menggambarkan kondisi potensi yang dimiliki  koperasi hasil inventarisasi tahun 2009 dan akan dijadikan dasar gambaran proyeksi beberapa tahun mendatang. Hasil perhitungan inventarisasi ini kemudian yang menjadi dasar perhitungan Jatah Tebang Tahunan (JTT) KWLM.

Kelas Diamater

Jumlah Pohon Perjenis

Jati

Persen

tase

Mahoni

Persen

tase

Albasia

Persen

tase

Sonokeling

Persen

tase

10 – 19 cm

        3.923

61%

        4.744

73%

              589

47%

              366

51%

20 – 29 cm

        2.012

31%

        1.436

22%

              351

28%

              235

33%

30 cm – up

           500

8%

           342

5%

              317

25%

              121

17%

TOTAL

        6.435

100%

        6.522

100%

           1.257

100%

              722

100%

DATA POTENSI POHON PER DESA (UNIT)

HASIL INVENTARISASI PADA LAHAN ANGGOTA TAHUN 2009

Kecamatan

Desa

Luas Lahan

Jumlah Pohon Perjenis

Jumlah Total Pohon

Jati

Mahoni

Albasia

Sono

keling

Samigaluh

01.Kebonharjo

1,37

79

169

84

7

339

02.Banjarsari

1,44

209

386

16

72

683

03.Pagerharjo

23,1

176

1.819

169

11

2.175

04.Ngargosari

6,83

15

331

85

1

432

05.Gerbosari

 

38

185

22

0

245

06.Sidoharjo

2,52

544

678

178

9

1.409

Kalibawang

07.Purwoharjo

1,84

234

96

0

8

338

08.Banjaroya

12,3

565

562

54

54

1.235

09.Banjarharjo

7,68

479

188

101

34

802

10.Banjarasri

21,54

2.066

668

364

174

3.272

11.Banjararum

19,39

1.138

682

37

31

1.888

Girimulyo

12.Giripurwo

13,44

892

758

148

321

2.119

13.Jatimulyo*

           

14.Pendoworejo*

           

15.Purwasari*

           

Total

 

111,45

6.435

6.522

1.258

722

14.937

*) Desa pengembangan

 Jika pada tahun 2009 KWLM telah melekukan inventarisasi lahan seluas 110 ha dengan jumlah anggota 227 orang, dengan sebaran wilayah kerja saat ini yaitu 3 Kecamatan, pada tahun 2010-2011 wilayah kerja KWLM menjadi 4 kecamatan yaitu Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo dan Nanggulan dengan total luas lahan 417,0689 ha. Untuk data hasil inventarisasi potensi pohon yang dilakukan setiap tahunnya akan dilampirkan bersama dengan dokumen rencana pengelolaan ini dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

 Penyediaan bibit tanaman

Untuk penyediaan bibit tanaman, koperasi telah membuat areal pembibitan sendiri yang berlokasi di Desa Pagerharjo dengan luasan 3.000 m2. Luasan pembibitan yang dikelola KWLM akan di sesuaikan dengan pertumbuhan anggota, jika anggota semakin banyak, yang berarti kebutuhan bibit juga bertambah banyak maka akan dilakukan perluasan lahan.

Pembibitan ini dibuat bertujuan untuk menjamin kelestarian pengelolaan hutan, dimana setelah penebangan dilakukan KWLM telah menyediakan bibit tanaman untuk para anggotanya dan diwajibkan untuk menanami kembali lahan mereka yang pohonnya telah ditebang dengan jumlah bibit, setiap satu pohon yang ditebang anggota akan mendapatkan 10 bibit tanaman yang diberikan secara gratis. Tidak hanya itu jika ada anggotanya yang membutuhkan bibit untuk ditanami pada lahannya yang masih kosong meskipun belum ada pohon yang ditebang juga akan difasilitasi oleh koperasi.

Untuk memastikan keberhasilan tanaman yang sudah dibagikan kepada anggota koperasi akan melakukan monitoring dilahan-lahan anggota yang sudah diberikan bibit tanaman Monitoring akan dilakukan selama tiga tahun pertama untuk memastikan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik atau tidak.

 

Limit Penebangan Yang Lestari

Jatah Tebang Tahunan (JTT)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya diatas terkait dengan kebijakan pengaturan penebangan, KWLM juga menetapkan jatah tebang tahunan (JTT). Pengelolaan hutan rakyat yang dikelola KWLM berbeda dengan pengelolaan hutan produksi seumur seperti yang dilakukan oleh Perhutani atau pemerintah karena, pada umumnya dalam satu hamparan lahan terdapat

berbagai jenis tanaman (tidak monokultur) dan tidak seumur, kalaupun seumur hanya diperkenankan akan menebang kayu sesuai dengan ketentuan diameter minimal dan kebutuhan.

Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) memperkirakan dengan penetapan harga pembelian kayu yang lebih layak kepada anggotanya, serta manfaat yang dirasakan menjadi anggota koperasi tersebar luas ke masyarakat sekitarnya, KWLM optimis keanggotan akan terus bertambah dan diikuti luasan yang juga bertambah. Melihat kondisi ini maka KWLM membuat rencana pengelolaan hutan 5 tahun (2010-2014) dengan proyeksi luasan lahan yang akan dikelola seluas 5.000 ha. Diasumsikan pada tahun pertama 2010-2011 KWLM akan mengelola lahan seluas 500 ha dan pada tahun kedua 2012-2014 seluas 1.500-5.000 ha. Target asumsi hingga 5.000 ha yang digunakan oleh KWLM bukanlah target sangat ambisius tapi, hanya target minimal dan paling logis untuk dicapai, mengingat total luasan hutan rakyat dari 3 Kecamatan yaitu Kalibawang, Samigaluh dan Girimulyo yang saat ini menjadi fokus wilayah pengelolaan KWLM hanya 60 % dari total luas potensinya 8.300 ha.

Berdasarkan proyeksi perrtumbuhan luasan lahan dalam kurun waktu 5 tahun KWLM akan mengelola sampai dengan 5.000 ha, maka perhitungan JTT akan menggunakan perhitungan proyeksi. Perhitungan hasil inventarisasi yang sudah diselesaikan pada tahun 2009 dengan luasan 110 ha dijadikan dasar perhitungan untuk proyeksi pengelolaan sampai dengan 5 tahun kedepan.

Dari hasil perhitungan potensi pohon yang sudah selesai dilakukan dengan luasan 110 ha pada tahun 2009 maka diketahui JTT-nya yaitu 336,76 m3. Dimana JTT kayu jati sebesar 82,64 m3, Mahoni 125,31 m3, Albasia 122,93 m3 dan Sonokeling 5,88 m3. Perhitungan JTT hasil inventarisasi tahun 2009 ini dimasukan pada JTT tahun 2010

Dari perhitungan tersebut diatas maka KWLM dapat memproyeksikan besaran JTT pada tahun pertama 2010-2011 yaitu 1.867,49 m3 (sampai dengan luas lahan 500 ha) dan pada tahun kedua 2012-2014 yaitu 29.083,82 m3 (sampai dengan luasan 5.000  ha). Untuk penghitungan Jatah Tebang Tahunan (JTT) ini, KWLM berkonsultasi dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan, Kulonprogo.

Karena perhitungan JTT 2010-2014 menggunakan proyeksi,maka setiap tahunnya KWLM mengajukan JTT perubahannya ke Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulonproogo,berdasarkan pada luasan yang sudah dicapai dan hasil inventarisasi yang sudah selesai dilakukan. Dengan demikian KWLM memiliki kontrol yang jelas dalam melakukan penebangan, sehingga tidak ada penebangan yang melebihi JTT yang sudah ditetapkan.

Untuk Perhitungan JTT setiap tahunnya akan di sertakan dalam dokumen  rencana pengelolaan ini yang disertakan dalam lampiran dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

JATAH TEBANG TAHUNAN KOPERASI

WANA LESTARI MENOREH TAHUN 2010[8]

JTT Tahun 2010

Jenis pohon

Luas lahan (ha)

volume kayu (m3)

Umur tebangan (tahun)

Etat tebangan (m3/tahun)

Jati

110

826,35

20

82,64

Mahoni

110

939,84

15

125,31

Albasia

110

307,33

5

122,93

Sonokeling

110

88,18

30

5,88

Jumlah

 

2.161,70

 

336,76

PROYEKSI JATAH TEBANG TAHUNAN PERJENIS

KOPERASI WANA LESTARI MENOREH  2011-2014

Tahun 2011

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014

Luas lahan (ha)

Volume kayu (m3)

Etat tebang

(m3/thn)

Luas Lahan (ha)

Volume kayu (m3)

Etat tebang (m3/thn)

Luas Lahan (ha)

Volume kayu (m3)

Etat tebang

(m3/thn)

Luas Lahan (ha)

Volume kayu (m3)

Etat tebangan (m3/thn)

500

3.756,15

375,62

1500

11.268,46

1.126,85

3000

22.536,93

2.253,69

5000

37.561,55

3.756,15

500

4.272,01

569,60

1500

12.816,03

1.708,80

3000

25.632,05

3.417,61

5000

42.720,09

5.696,01

500

1.396,95

558,78

1500

4.190,84

1.676,33

3000

8.381,67

3.352,67

5000

13.969,45

5.587,78

500

400,80

26,72

1500

1.202,40

80,16

3000

2.404,80

160,32

5000

4.008,00

267,20

 

9.825,91

1.530,71

 

29.477,73

4.592,14

 

58.955,45

9.184,29

 

98.259,09

15.307,15

PROYEKSI JATAH TEBANG TAHUNAN KOPERASI WANA LESTARI MENOREH

TAHUN 2010-2014

No

 

2010*)

2011

2012

2013

2014

1

Anggota

227

666

2.000

4.000

6.666

2

Luas Lahan

110

500

1.500

3.000

5.000

3

Potensi Pohon

14.937,00

67.895,45

203.686,36

407.372,73

678.954,55

4

Volume (m3)

2.161,70

9.825,91

29.477,73

58.955,45

98.259,09

5

JTT (m3/tahun)

336,76

1.530,73

4.592,18

9.184,36

15.307,27

  *) Diolah dari data hasil inventarisasi yang telah selesai dilakukan tahun 2009

 

Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup

Dampak Lingkungan

Aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam pengelolaan hutan rakyat menjadi bagian yang wajib dan harus dilakukan, serta telah menjadi komitmen KWLM. Untuk mengukur dampak lingkungan dari kegiatan pengelolaan hutan rakyat KWLM melakukan kegiatan yang disebut Pengujian dampak lingkungan yaitu dengan cara melakukan pengawasan dan monitoring yang didasarkan pada data dan informasi hasil inventarisasi dan hasil cek lapangan setelah penebangan dilakukan. Selama proses inventarisasi dikumpulkan, informasi mengenai lokasi lahan anggota yang didaftarkan untuk dikelola seperti informasi jarak lahan dengan sumber air dan kondisi topografi ( persen kemiringan) lokasinya. Juga dicatat mengenai informasi berbagai jenis satwa yang pernah dilihat di kawasan tersebut. Pada saat panen (penebangan) dilakukan, rencana penebangan dibuat dengan memperhatikan semua informasi yang telah terkumpul untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan yang tidak perlu.

Dalam rencana penebangan KWLM memastikan beberapa hal  yaitu;

–          Menghindari penebangan yang menjadi kawasan penyangga atau perlindungan sumber mata air

–           Menghindari penebangan atau kerusakan terhadap pohon lain dan yang memiliki sarang burung atau pohon yang menjadi tempat habitat burung,

–          pohon yang terdapat dikawasan yang curam tidak ditebang sekaligus dalam sekali tebang,

–          mengupayakan sekecil mungkin agar pohon yang tidak ditebang tidak mengalami kerusakan, yaitu dengan menerapkan metode cara penebangan yang benar yang telah ditetapkan KWLM .

–          Laporan mengenai penebangan dibuat setelah kegiatan penebangan selesai dilakukan untuk melihat dampak lingkungan atau dampak lain yang disebabkan oleh penebangan.

Jika ditemukan kerusakan lingkungan yang cukup serius sebagai akibat penebangan maka, pengawas harus segera membuat laporan dan KWLM harus bekerjasama dengan pihak tersebut untuk mencari solusi terbaik untuk memperbaiki atau mengembalikan kondisi kerusakan yang sudah ditimbulkan akibat aktivitas penebangan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya diatas ada beberapa hal yang akan dilakukan sebagai bentuk pengawasan dan monitoring sekaligus pengujian dampak lingkungan akibat dari aktivitas penebangan dan tindakan yang harus dilakukan yaitu;

a. Pengawasan dan Monitoring Kondisi Tegakan Pohon Pasca Penebangan

  • Pemantauan terhadap tingkat kerusakan pada pohon lain yang tidak ditebang dan anakannya.
  • Srata/tingkat tutupan tajuk
  • Pemantauan terhadap penanaman kembali.

Tindakan yang harus dilakukan:

  • Jika kerusakan pohon lain dan anakannya cukup besar maka harus dilakukan evaluasi dan perbaikan pada teknik arah rebah saat penebangan dilakukan
  • Melakukan penanaman kembali dan tingkat keberhasilannya pemulihannya harus dipantau terus menerus. Selain itu inventraisasi akan dilakukan secara berkala untuk memantau kondisi tegakan.
  • Koperasi akan memantau setiap anggotanya yang telah diberikan bibit, untuk mematikan tingkat kegagalan dan keberhasilan.

b. Pengawasan dan Monitroring Kondisi Kawasan (Tanah dan daerah penyangga seperti sumber-sumber air) Pasca Penebangan

  • Kepadatan tanah dan erosi yang mungkin terjadi akibat aktivitas penebangan sebelum dan sesudah penebangan
  • Pencemaran air dari limbah kayu,kerusakan kawasan penyangga dan sumber air yang mungkin terjadi setelah penebangan.

Tindakan yang harus dilakukan:

  • Jika terjadi kepadatan tanah dan erosi, maka evaluasi dan perbaikan harus dilakukan pada cara pengangkutan kayu dan evaluasi terhadap maksimal derajat kemiringan lahan yang diperkenankan untuk dilakukan penebangan pohon sesuai dengan kondisi lingkungannya.
  • Jika terjadi pencemaran air dari limbah kayu yang dihasilkan tidak disengaja maka akan dicarikan solusi upaya penanganan limbahnya. Karena kebanyakan masyarakat telah memanfaatkan sisa-sisa kayu selama penebangan, seperti dengan cara menggunakan sisa-sisa kayu untuk bahan-bahan bangunan dan kayu bakar, bahkan serbuk gergajian pun telah dimanfaatkan masyarakat untuk bahan campuran pembuatan kompos, sehingga sangat sedikit sisa kayu (limbah) yang terbuang. Akan tetapi, upaya untuk terus meminimalkan limbah, pihak KWLM juga akan senantiasa mencari lebih banyak lagi pasaran tempat menjual sisa-sisa potongan kayu sekecil apapun, termasuk serbuk gergajian di pasar lokal. Jika pembuangan limbah kayu ke sumber air disengaja oleh pelaksana penebangan maka akan dilakukan tindakan peringatan dan jika masih terulang kembali maka akan dilakukan pemberhentian.
  • Jika terjadi kerusakan pada kawasan penyangga dan sumber air maka tindakan evaluasi dan perbaikan pada jarak penebangan yang paling aman untuk dilakukan agar hal serupa tidak terjadi lagi.

c. Pengawasan dan Monitoring Kondisi Satwa Liar Pasca Penebangan

  • Pemantauan terhadap satwa dan sarang yang ada sebelum dan sesudah dilakukan penebangan

Tindakan yang harus dilakukan:

  • Jika terjadi penurunan populasi satwa dan terjadi kerusakan sarang maka, pengurus harus memperbaiki sistem pengecekan dan memperketat pengawasannya terhadap kondisi satwa dan sarang sebelum dilakukan penebangan. Jika penurunan populasi satwa akibat dari perburuan yang tidak terkendali bukan akibat dari penebangan maka koperasi bersama dengan pemerintah setempat akan memusawarhkannya untuk mengambil tindakan yang perlu dan harus dilakukan agar hal serupa tidak terjadi lagi. Minimal akan dilakukan monitoring dan pencegahan terhadap perburuannya.

Selain melakukan pengawasan dan monitoring untuk melihat dampak lingkungan dari kegiatan penebangan KWLM, selain memabagikan bibit tanaman produktif kepada masyarakat/anggota juga melakukan penanaman pohon beringin pada kawasan-kawasan sekitar sumber air yang jumlah pohonnya sudah tua atau kurang dengan tujuan agar dapat menjaga keberadaan sumber air. Selain itu KWLM juga memasang papan peringatan untuk tidak membuang sampah dan menjaga sumber air di beberap tempat sumber air.

Dari hasil pengawasan dan monitoring dan kegiatan upaya perlindungan terhadap lingkungan yang telah dilakukan KWLM beberapa hal yang didapat yaitu;

Dampak Positif;

  1. Masyarakat/anggota KWLM utamanya anggota yang menjadi kontraktor penebangan menjadi paham pentingnya melakukan penebangan dengan cara yang benar dan tepat sehingga dapat menghindari kerusakan pada pohon lain dan lingkungan.
  2. Masyarakat/anggota KWLM utamanya anggota yang menjadi kontraktor penebangan ataupun pemilik lahan menjadi tahu dan paham perlu perencanaan diawal dalam menentukan arah rebah dan jalur pengangkutan kayu sehingga memudahkan pengangkutan dan dapat meminimalkan kepadatan tanah atau pun erosi.
  3. Masyarakat/anggota KWLM uatamnya pemilik lahan menjadi paham pentingnya dilakukan pengecekan terhadap pohon yang akan ditebang apakah terdapat sarang satwa umumnya burung sehingga dapat menghindari kematian pada anakan burung yang dapat berdampak pada berkurang atau hilangnya populasi satwa atau burung yang ada.
  4. Masyarakat/anggota KWLM mendukung penuh atas upaya pelindungan kawasan penyangga sumber air.
  5. Masyarakat/anggota utamanya pemilik lahan merasakan dampak positif dari rencana penebangan dan pengangkutan kayu yang benar dimana pohon-pohon kecil dampat terhindari dari kerusakan jika dibandingkan sebelumnya saat belum ada KWLM.
  6. Masyarakat/anggota KWLM merasa diuntungkan dan mendukung dengan pembagian bibit gratis/menggantikan bibit tanaman dari setiap penebangan pohon, sehingga kelestarian hutan dan pendapatan masyarakat terus terjaga.

Dampak negative;

Menurut masyarakat/anggota KWLM tidak ada dampak negatif dari upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan KWLM bahkan jauh lebih baik jika dibandingkan sebelum ada KWLM. Dengan rencana penebangan yang benar dan tepat yang diatur KWLM dampak negative terhadap lingkungan tidak terjadi.

Untuk menjaga kondisi tersebut KWLM, tetap terus menerima kritik dan saran dari masyarakat/anggota baik di forum-forum formal atau non formal.

Pencegahan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya

Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) tidak menganjurkan penggunaan pestisida atau bahan kimia apapun pada tanaman yang dikelola oleh anggotanya. Disetiap pelatihan mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya tersebut tidak dianjurkan. Jika pada tanaman anggota terkena hama atau penyakit, solusinya dengan memangkas, membuang bagian yang terserang atau memusnahkan tanaman agar hama atau penyakit tidak menyebar. Penggunaan pupuk kimia untuk pohon tidak lazim digunakan oleh masyarakat, dan untuk pertanian-pun diwilayah kerja koperasi penggunaan pupuk kimia sudah pelan-pelan ditinggalkan. Ini dapat dibuktikan bahwa sebagian besar anggota koperasi sudah tergabung dalam organisasi tani yang menolak penggunaan pupuk kimia atau pestisida berbahaya pada usaha pertanian mereka. Selain itu juga dapat dilihat dari demplot pertanian organik yang sudah dilakukan.

 

 Aspek Sosial Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat

Dalam pengelolaan hutan rakyat aspek sosial merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Untuk dapat mengetahui dampak dari pengelolaan yang dilakukan Koperasi wana Lestrai Menoreh (KWLM) perlu dilakukan study. Agar KWLM dapat mengetahui dampak sosial secara berimbang dan obyektif terhadap kegiatan pengelolaan yang dilakukan, maka study dilakukan bukan hanya dari anggota KWLM saja tapi juga dari luar anggota atau bukan anggota, namun masih berada didalam wilayah kerja KWLM.  Dari hasil study terhadap dampak sosial dalam pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan, berdasarkan pendapat anggota yaitu;

 Dampak Positif;

  1. Masyarakat / anggota KWLM pada umumnya mendukung aspek kelestarian lingkungan dalam hal ini mengatasi erosi, longsor dan kerawanan air bersih.
  2. Anggota merasa manfaatnya mendapat bibit gratis, menjual kayu dengan harga sedikit lebih baik, tranparansi dalam menentukan volume kayu dan juga bisa memperoleh pinjaman dengan jaminan kayunya.
  3. Adanya sedikit peningkatan harga kayu dan juga kemudahan memperoleh pinjaman sehingga perekonomian keluarga meningkat dan mereka lebih maju dalam melakukan usaha. 
  4. Masyarakat merasakan dampak positifnya terhadap kelestarian lingkungan karena penentuan Jatah Tebang Tahunan (JTT) koperasi dan kawasan kawasan yang bernilai konservasi tinggi sangat diperhatikan.

Sedangkan hasil study terhadap dampak sosial dalam pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan, berdasarkan pendapat masyarakat diluar anggota KWLM yaitu;

Dari hasil wawancara dapat disimpulkan beberapa dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Dampak positif tersebut adalah :

  1. Peningkatan pendapatan masyarakat
  2. Peningkatan pendapatan desa/pemerintah pada umumnya
  3. Perluasan lapangan kerja baru
  4. Transparansi atas pemanenan dan penjualan kayu
  5. Kemudahan mendapatkan bibit yang berkualitas
  6. Terjaganya kelestarian lingkungan.

Dampak negatif;

Menurut masyarakat dampak negatif dari kegiatan koperasi tidak dirasakan, hanya saja ada beberapa kekawatiran bagaimana kehidupan pedagang kayu dimasa datang.

Secara keseluruhan hasil study ini menunjukkan bahwa pengelolaan hutan yang dilakukan KWLM berpengaruh positif terhadap masyarakat dan lingkungan. Namun kedepannya KWLM harus tetap ”membuka mata” adanya kekhawatiran masyarakat terhadap pedagang kayu lainnya dimasa datang. Untuk itu perlu dilakukan komunikasi dan diskusi kepada pedagang kayu lainnya, untuk mencari solusi atas kekhawatiran dari pedagang kayu lainnya.

Hasil study ini juga diperoleh beberapa rekomendasi. Setidaknya terdapat 4 rekomendasi yang dapat disimpulkan dari study tersebut yang juga akan menjadi pertimbangan KWLM dalam melakukan pengelolaan hutan yaitu;

  1. Pengelolaan hutan lestari yang telah dilakukan KWLM sangat didukung oleh masyarakat dan tetap harus dikembangkan.
  2. Dibutuhkan kegiatan sosialisasi atas sistem pengelolaan hutan oleh KWLM, agar seluruh masyarakat memahami terhadap sistem tersebut.
  3. Setelah KWLM memperoleh lisensi sertifikasi FSC Smarwood, masyarakat sangat berharap mampu memberikan kontribusi yang lebih baik kepada  masyarakat berupa peningkatan harga jual kayu mereka.
  4. Peningkatan pendapatan masyarakat akan terus diupayakan dengan mengexsplorasi potensi dibawah tegakan.
  5. Pemeliharaan Kawasan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi

 

Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi

Sebagai bentuk komitmen dan salah satu prasyarat dalam sertifikasi pengelolaan hutan lestari pengelolaan lingkungan menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM). Pengelolaan lingkungan hidup dilakukan berdasarkan hasil study identifikasi kawasan bernilai konservasi tinggi di wilayah di dalam wilayah pengelolaan hutan rakyat KWLM. Dari hasil study yang terdiri 6 pengelompokan kawasan dengan nilai konservasi tinggi (NKT) diketahui, didalam wilayah pengelolaan hutan rakyat KWLM terdapat 3 NKT yaitu;

  1. NKT 1. Kawasan yang Mempunyai Tingkat Keanekaragaman Hayati Tinggi. Terdiri dari;

         NKT 1.2 Species Yang Sangat Langka atau Hampir Punah

         NKT 1.3 Kawasan yang Mempunyai Habitat bagi Populasi Spesies yang Langka, Terancam,  Endemik atau Dilindungi yang    Mampu Bertahan Hidup.

  1. NKT 5. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal.
  2. NKT 6. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Tradisional Komunitas Lokal.

 Hasil temuan 3  NKT tersebut diatas Koperasi Wana Lestari Menoreh dalam upaya pengelolaannya dibuatkan dalam rencana strategi pengelolaan pada masing-masing NKT yaitu;

  1. NKT 1. Kawasan yang Mempunyai Tingkat Keanekaragaman Hayati yang Tinggi

–          NKT 1.2 Species Yang Sangat Langka atau Hampir Punah.

  • Dari hasil informasi yang diperoleh bahwa 1 spesies yang di indentifikasi merupakan spesies dilindungi dengan status Endangered yaitu Trenggiling (Manis Javanica). Dari hasil temuan, adanya perburuan dan perdagangan yang dilakukan terhadap spesies tersebut maka KWLM harus melindungi spesies tersebut.
  • Dalam upaya melakukan perlindungannya KWLM bekerjasama dengan pemerintahan terkait seperti pemerintahan Desa, Kecamatan dan Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan kabupaten Kulonprogo, secara bersama-sama mensosialisasikan kepada masyarakat tentang peraturan tentang pelarangan penangkapan, perburuan ataupun perdagangan terhadap spsesies yang dilindungi.

NKT 1.3 Kawasan yang Mempunyai Habitat bagi Populasi Spesies yang Langka, Terancam,  Endemik atau Dilindungi yang Mampu Bertahan Hidup.

    • Jika diketahui lebih lanjut bahwa, kawasan tertentu merupakan  lokasi habitat penting bagi spesies Trenggiling (Manis javanica) dengan jumlah populasi lebih dari 2 sebaiknya koperasi wana lestari menoreh harus memastikan kawasan tersebut bebas dari aktifitas penebangan ataupun kegiatan operasional lainnya yang terkait dengan penebangan yang dapat mengganggu habitat dari  spesies yang dilindungi tersebut.
    • Jika kawasan yang menjadi habitat penting bagi spesies tersebut diatas berada dilahan milik masyarakat, maka KWLM membuat kesepakatan tentang perlindungan terhadap kawasan tersebut.

Selain hal tersebut diatas untuk perlindungan satwa yang dilindungi tersebut, KWLM juga menerapkan kebijakan bahwa  semua anggota koperasi:

  • Mematuhi hukum yang berlaku terkait dengan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi, yaitu PP.No.7 tahun 1999, tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.
  • Tidak akan melakukan perburuan atau memasang jerat satwa yang dilindungi baik di dalam maupun di luar kawasan hutan KWLM
  • Tidak akan menebang pohon yang ada sarang(burung)nya
  • Melaporkan, apabila melihat, satwa yang dilindungi yang terancam di kawasan hutan.
  • Melaporkan kegiatan perburuan dan/atau pemasangan jerat di kawasan hutan.
NKT 5. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal.

Dari hasil identifikasi di wilayah pengelolaan hutan rakyat KWLM, teridentifikasi 37 lokasi NKT berupa  sumber air yang merupakan bagian yang tidak tergantikan dalam pemenuhan kebutuhan dasar hidup masyarakat sekitar atas air dengan total luasan lahan 4.772 m2. Dari 37 lokasi NKT lokasi yang teridentifikasi dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Samigaluh 20 lokasi dengan luasan 3.364 m2,dimana terdapat jumlah pengguna yaitu 535 Kepala Keluarga (KK) terdiri dari 29 Dusun, Kecamatan Kalibawang 13 lokasi  dengan luasan 808 m2, dimana terdapat jumlah pengguna yaitu 498  KK terdiri dari 21 Dusun dan Kecamatan Girimulyo 4 lokasi dengan luasan 600 m2, dimana terdapat jumlah pengguna yaitu 157 KK terdiri dari 11 Dusun.

Sebagai tindak lanjut atas teridentifikasinya kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi, maka KWLM dalam menjalankan usaha pengelolaan hutan rakyat akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  • Pada sekitar kawasan dengan fungsi utama penyediaan air bagi masyarakat, KWLM tidak melaksanakan tebang habis.  Untuk langkah ini KWLM melakukan pendekatan/negosiasi terhadap pemilik hutan di wilayah yang memiliki nilai konservasi.  Proses negosiasi didokumentasikan, dan kesepakatan yang telah dicapai dituangkan ke dalam dokumen yang mengikat.
  • Tidak diperkenankan melakukan penebangan pohon sekaligus dari suatu hamparan kawasan hutan yang luas, tapi harus menggunakan sistem tebang pilih untuk mempertahankan tutupan tajuk (untuk membantu mengurangi erosi tanah).
  • KWLM memperkaya jenis-jenis pohon selain berfungsi untuk perlindungan sumber air tapi juga memiliki nilai ekonomi hasil hutan bukan kayu.
  • Masih dimungkinkannya ditemukan NKT sumber air di tempat lain, seiring dengan penambahan jumlah dan lahan anggota KWLM sehingga, diperlukan identifikasi  secara terus menerus selama penambahan anggota terjadi.
  • Paling tidak setiap 1 tahun KWLM harus melakukan perbaikan data dan dokumen rencana pengelolaan terkait dengan tambahan informasi baru NKT 5 yang dibuatkan dalam bentuk laporan dan di sosialisaskian kepada anggotanya.
  • mengingat jumlah NKT berupa sumber air yang akan dikelola KWLM tidak sedikit dan ada kecenderungan terus bertambah, agar pengelolaannya dapat berjalan semestinya, maka dalam kegiatan pengelolaannya kerjasama dengan pihak-pihak terkait harus dilakukan.

Selain hal tersebut diatas untuk melindungi sumber-sumber air, maka KWLM mengeluarkan kebijakan bahwa semua anggota harus;

  • Mematuhi hukum yang berlaku terkait perlindungan sumber-sumber air dan konservasi tanah.
  • Menentukan wilayah-wilayah bebas tebang sejauh 5 meter pada setiap sisi sungai atau sumber mata air. Dilarang menebang jati, Mahoni, Sonokeling, sengon atau tanaman dari jenis lain yang berada di sekitar atau dalam daerah bebas tebang yang sudah ditentukan, yang dimungkinakan akan berdampak buruk atau terganggunya sumber air.
  • Tidak diperkenankan melakukan penebangan pohon sekaligus dari suatu hamparan kawasan hutan yang luas, tapi harus menggunakn sistem tebang pilih untuk mempertahankan tutupan tajuk (untuk membantu mengurangi erosi tanah).
  • Untuk mengurangi erosi atau kepadatan tanah paska panen tidak diperkenankan penggunaan alat berat, tapi kayu log digelindingkan, ditarik atau dipanggul.

Dasar hukum tentang pengawasan sumber air pada areal hutan yaitu Undang-Undang No. 41, Pasal 50;3c yaitu: Setiap orang dilarang melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan:

  1. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau.
  2. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa
  3. 100 meter dari kiri kanan tepi sungai
  4. 50 meter dari kiri kanan tepi anak sungai
  5. 2 kali kedalaman jurang dari tepi jurang

Meskipun aturan tersebut hanya untuk areal hutan dan kawasan hutan negara tidak diterapkan pada tanah pribadi (hutan rakyat) namun KWLM akan menggunakan aturan ini sebagai panduan umum untuk memperkirakan batas areal disekitar sumber air dalam pengelolaan hutan.

NKT 6. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Tradisional Komunitas Lokal.

Dari hasil identifikasi NKT 6 yang dilakukan di wilayah pengelolaan hutan rakyat KWLM, teridentifikasi 15 lokasi NKT yang merupakan Kawasan yang mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Komunitas lokal dan bahkan nasional dengan total luasan 71.850 m2.  Dari 15 lokasi NKT 6 yang teridentifikasi dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Samigaluh 3 lokasi dengan total luas lahan 7.510 m2, jumlah penggunanya 1.115 orang per bulan, Kecamatan Kalibawang 10 lokasi dengan luas lahan 18.340 m2, dimana jumlah pengguna 7.895 orang per bulan dan Kecamatan Girimulyo 2 lokasi dengan luasan 46.000 m2, dimana jumlah pengguna 500 orang per bulan.

Sebagai tindak lanjut atas teridentifikasinya kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi, maka KWLM dalam menjalankan usaha pengelolaan hutan rakyat akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  • KWLM memperkaya jenis-jenis pohon selain berfungsi untuk konservasi tanah tapi juga memiliki nilai ekonomi hasil hutan bukan kayu.
  • Masih dimungkinkannya ditemukan NKT 6 di tempat lain, seiring dengan penambahan jumlah dan lahan anggota KWLM sehingga, diperlukan identifikasi  secara terus menerus selama penambahan anggota terjadi.
  • Mengingat jumlah NKT 6 yang akan dikelola KWLM tidak sedikit dan ada kecenderungan terus bertambah, agar pengelolaannya dapat berjalan semestinya, bersama dengan anggota dan masyarakat, dalam kegiatan pengelolaannya kerjasama dengan pihak-pihak terkait harus dilakukan.
  • Paling tidak setiap 1 tahun KWLM harus melakukan perbaikan data dan dokumen rencana pengelolaan terkait dengan tambahan informasi baru NKT 6 yang dibuatkan dalam bentuk laporan dan di sosialisaskian kepada anggotanya.

UNTUK MELINDUNGI SITUS BUDAYA DAN PENINGGALAN SEJARAH MAKA KWLM MENGELUARKAN KEBIJAKAN BAHWA SEMUA NGGOTA;

  • Berkewajiban menjaga, memeliahara dan melestarikan situs budaya dan peninggalan sejarah yang ada dimasing-masing wialayah.
  • Mematuhi hukum yang berlaku terkait perlindungan situs budaya dan sejarah

.Hasil study terkait dengan identifkasi kawasan dengan nilai konservasi tinggi (NKT) berupa NKT 1. kawasan yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati tinggi, NKT 5. Kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal, NKT 6. kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk identitas budaya tradisional komunitas lokal, yang menjadi dasar dalam pengelolaan lingkungan hidup, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam dokumen rencana pengelolaan hutan rakyat KWLM.

 

Peta-peta hutan yang menunjukkan Kawasan-kawasan yang dilindungi, pengelolaan yang direncanakan dan kepemilikan lahan

Peta – peta yang dilampirkan berupa peta sebaran anggota, peta hasil study identifikasi kawasan dengan nilai konservasi tinggi (NKT) yang menjadi dasar pengelolaan lingkungan hidup dan peta lokasi rawan longsor merupakan bagian yang tidak terpisah kan dalam dokumen rencana pengelolaan hutan rakyat KWLM.

 

Jangka Waktu Perencanaan

Dokumen rencana pengelolaan hutan rakyat Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) yang disusun untuk jangka waktu 5 tahun. Namun sistem pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan KWLM saat ini bukan menggunkan pengelolaan hutan rakyat pada satu hamparan luas, namun berdasarkan keanggotaan aktif, dimana masih dimungkinkan keanggotaan dan luasan lahan yang terus bertambah maka, setiap tahun KWLM akan membuatkan laporan terhadap perubahannya. Beberapa laporan perubahan yang setiap tahunnya akan dibuatkan yaitu;

  1. Data anggota dan luasan lahan.
  2. Data potensi kayu dan perhitungan Jatah Tebang Tahunan (JTT)
  3. Data kawasan hutan yang memiliki  nilai konservasi tinggi (NKT)

 


[4] . http://bpprejotangan.blogspot.com/2009/04/teknik-pembuatan-tanaman-mahoni.html (pustaka: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Teknik Pembuatan Tanaman Swietenia macrophylla King (Mahoni). Direktorat Hutan Tanaman Industri. Maret 1990).

[5] . Iskandar Z. Siregar dkk, Prospek Bisnis, Budi Daya, Panen dan Pascapanen Kayu Sengon, 2009.

[6] . http://www.trubus-online.co.id/members/ma/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=1411

[7] . Untuk sengon minimum diameter yang diperkenankan untuk ditebang yaitu diameter 20 cm-up.

[8] . Jatah Tebang Tahunan (JTT) 2010 diperoleh dari hasil inventarisasi yang sudah selesai dilakukan dengan luasan 110 ha di tahun 2009.





KSU Wana Lestari Menoreh

24 03 2014

Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) terbentuk pada tanggal 2 Agustus 2008, dengan badan pendiri sebanyak 20 orang di desa Gerbosari. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dibuat secara swadaya.

Legalitas Koperasi telah mendapat persetujuan dalam keputusan Bupati Kulon Progo dengan No: 29/BH/XV.3/2009 tertanggal 3 April 2009.

 

Informasi lebih lengkap :

ImageImage

 

 

 

 

 

 





RUU Desa

7 03 2014

Rancangan Undang Undang Desa sudah disyahkan apakah ini menjadi semakin dekat dengan mimpi dan cita-cita bahwa community logging di Kulon Progo semakin menjadi kenyataan. Warga sejahtera dan hutan lestari ?





Parent Tree@Samigaluh

1 08 2013

[2012] Keluarga Christa menanam bibit di tanah desa Pagerharjo, Samigaluh, Jogja. LIma tahun lagi keluarga ini akan kembali melihat bibitnya, begitu kata mereka.





Sisa Sumber Mata Air

11 07 2013

Penampungan Air

kawasan dilindungi

Samigaluh-Kelunprogo inilah sebagai wilayah sumber-sumber air terakhir Yogyakarta untuk mempertahankan daerah tangkapan air. Nilai konservasi tinggi pernah diperoleh KWLM sebagai persyaratan hutan lestari yang dinilai oleh lembaga sertifikasi FSC-Smartwood pada tahun 2010 yang lalu.
Wilayah ini menjadi potensi terbesar Koperasi Wana Lestari Menoreh dalam mengembangkan dan mempertahankan sisa-sisa sumber mata air melalui konservasi.
Pilihan pelestarian sumber-sumber mata air ini diambil sebagai bagian dari memperjuangkan untuk tidak memilih bendungan sebagai solusi mengatasi kurangnya ketersediaan air untuk wilayah Yogyakarta pada 5 tahun mendatang.

salam





Koperasi Wana Lestari Menoreh Siap Menyambut Kebijakan SVLK

29 08 2012

Rapat Pengurus KWLM untuk persiapan sertifikasi VLK

Kulonprogo – Berkaitan dengan kebijakan Menteri Kehutanan (Permenhut) P.68/Menhut-II/2011 Koperasi Wana Lestari Menoreh tengah mempersiapkan penilaian oleh tim dari FSC-Smartwood.